Find Me
Tampilkan postingan dengan label My Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Family. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2020

STORY TELLING

    Dunia anak itu selain bermain, juga syarat akan imaginasi. Anak tanpa distimulasi pun terkadang berimajinasi sendiri. Bahkan terkadang tanpa disadari maupun disadarinya, anak terkadang berimaginasi sendiri saat berkomunikasi dengan orang lain atau di dalam keluarganya. Saat menyampaikan sesuatu, dimana sesuatu itu sebenarnya pendek, oleh anak terkadang dikembangkannya sendiri. Bahkan tidak jarang mereka mengarang ceritanya sendiri. Misalnya saat ia menceritakan mimpinya, cerita tentang mimpinya banyak sekali dibumbui hal-hal yang selingkali tidak logis. Atau saat anak sedang bermain dengan alat-alat permainannya, bisa berjam-jam anak bicara sendiri dan berdialog asyik dengan mainannya. Itu sebenarnya imaginasi yang sangat menarik dan perlu disupport dan didukung, bahkan kalua perlu didengarkan dan ditulis. Dan dipelajari Bersama untuk dapat dirangkai menjadi sebuah cerita indah yang renyah untuk dinikmati.

Sayangnya terkadang perilaku anak yang demkian, berbicara dengan mainannya, atau mengarang-ngarang cerita yang tidak logis. Oleh orang dewasa (orang tua) dianggap perilaku yang kurang baik, dan disuruh diam. Hal itu sebenarnya justru mematikan daya imaginasi yang sangat dekat dengan kreativitas. Ketika dilarang, sebenarnya secara tidak langsung itu menyuruh anak berhenti berpikir (berimajinasi). Yang secara tidak langsung akan berdampak terhadap perkembangan otaknya dalam memahami hal-hal yang abstrak. Karena sebenarnya Ketika mereka berimajinasi tersebut, pada saat itu pula anak sedang melatih kemampuan otaknya. Maka dari itu, sebagai orang dewasa harusnya memahami hal ini, apalagi mereka sudah pernah mengalami masa kecil. Dimana keasyikan berimajinasi itu memberikan kepuasan tersendiri bagi anak, karena memang itulah dunia mereka.

Salah satu aktivitas yang dapat membangkitkan dan mengembangkan imaginasi anak, adalah story tellingStory telling jika dilihat dari segi Bahasa memiliki arti cerita dan menceritakan, yang berarti Echols (1975). Secara istilah story telling menurut Malan (1991). Adalah upaya yang dilakukan oleh pencerita (orang yang bercerita) untuk menyampaikan cerita kepada anak secara lisan, yang di dalamnya mengandung isi perasaan dan pikiran. Awalnya story telling ini hanya ditjukan untuk menghibur atau mengajarkan sesuatu kepada generasi muda agar lebih mudah. Dewasa ini, story tellingberkembang menjadi media terapi psikologi yang terbukti mampu memberikan efek positif terhadap beberapa masalah psikologi. Karena dengan story telling konsep berpikir anak akan berkembang hingga sampai ke taraf analisis. 

Salah satu bentuk cerita yang sering kita alami di masa Cecil adalah dinging pengantar tidur. wah kalas sudah orang tua kita meninabobokkan kita dengan dongeng pangeran atau putri. maka fantasi Anak akan melambung ke cakrawala. 

Penelitian Joseph Campbell (dalam The Golden Surprice 2014) terkait story telling yang terkumpul dalam jurnal kuliahnya di tahun 1980-an, yakni “Transformation of Myth Throught Time” menyatakan bahwa story sangat kaya akan pesan dan pembelajaran hidup. Collin (dalam Isbell dkk., 2004) juga menegaskan bahwa banyak kegunaan di dalam pendidikan utama anak. Story menyediakan suatu kerangka konseptual untuk berpikir, yang menyebabkan anak dapat membentuk pengalaman menjadi keseluruhan yang dapat mereka pahami. Story menyebabkan mereka dapat memetakan secara mental pengalaman dan melihat gambaran di dalam kepala mereka. 

Penelitian Robertson & Karagiogiz (2004) terkait bagaimana reaksi anak pada story telling. Khususnya terkait pandangan gender di dalam cerita, dan pemahaman mereka terhadap cerita, serta pendapat mereka pada karakter-karakter dalam cerita. Dimana subjeknya adalah anak-anak pre-adolesen keturunan Yunani yang tidak dapat berbahasa Yunani terhadap cerita-cerita Yunani. Cerita yang disampaikan ada dua judul, yakni (1) Chrisofeggaraki bercerita tentang seorang wanita yang harus melarikan diri dari rumah karena selalu diincar untuk dibunuh oleh kakak-kakaknya sendiri. Selama dalam pelariannya, Chrisofeggaraki mencoba bertahan dengan adanya cobaan-cobaan yang menghadangnya; (2) The Greek Children bercerita tentang perjuangan kakak beradik George dan Maria dalam melawan musuhnya Master Agas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui story telling dengan menggunakan cerita-cerita rakyat dan diiringi oleh pertanyaan-pertanyaan yang terarah, membuat anak mampu menganalisa cerita tersebut dan menceritakan kembali pendapat mereka. Cara subjek memaknai cerita itu dikaitkan dengan hubungan antar keluarga, ketika membaca bacaan pertama, anak mampu mengatakan bahwa kakak adik seharusnya tidak saling menyakiti dan seharusnya saling mendukung. Reaksi umum terhadap bacaan kedua adalah bahwa bagi siswa laki-laki dan perempuan, George merupakan pahlawan yang mempunyai keberanian dan keteguhan; sedangkan bagi siswi perempuan, Maria merupakan tokoh yang mempunyai keteguhan tinggi, kemauan yang keras dan determinasi yang kuat. 

Jadi story telling sangatlah berguna bagi anak untuk mengembangkan konsep diri dan karakter, karena anak akan mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh yang disukainya dalam cerita. Dan umumnya menyukai karakter yang baik dan heroic.

 

 

Read more ...

Selasa, 01 November 2016

Calistung Raisha




Mengikuti perkembangan buah hati merupakan aktivitas yang sangat berharga dan bahkan tidak ternilai. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap pagi, siang, malam, setiap hari, minggu, bulan dan tahun adalah saat-saat yang tidak semua orang bisa mengikuti perkembangan buah hatinya. Tidak terkecuali aku. Akupun serngkali dibuat takjub dan kagum dengan setiap kosa kata yang dilontarkan Raisha Raqilla Assaid, prutri cantikku. Dia memahami kosa kata, yang menurut ukuran kita (Abi dan Uminya) belum tahu, tetapi ia udah tahu. Misal saat lihat banjir, gunung, hutan. Maka dengan sangat tepat ia akan menunjuk ke televisi, kalau itu banjir, jalan-jalan ke gunung atau kata-kata sulit lainnya.
 
Bahkan sekarang udah mulai mampu bercerita panjang lebar, walaupun untuk menghasilkan cerita yang utuh, nampak ia berpikir keras dan tersengal dengan pandangan yang kebingungan (berpikir keras). Tapi yang paling membuat sedih, saat aku pamit untuk pulang ke Jogja. Maklum sejak sekolah di TK nol kecil, ia berada di Ponorogo bersama umiiknya. Sedangkan aku, tetap di Jogja, dan setiap Sabtu pagi, atau Jum’at Sore aku berkunjung ke Ponorogo, baru hari Senin pagi aku balik ke Jogja. Nah seminggu lalu, pertengahan Oktober 2016, ia mengatakan sesuatu yang membuatku sedih. Abi balik ke Jogja dulu ya, sayang. Sembari menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengannya sekaligus mencium pipi dan keningnya. Jawabnya dengan sangat jelas “oo iyya bi, abii besok cepat balik lagi ke Ponorogo ya, ya bii, bii, yaa biii...yaa biii..begitu kebiasaannya mengulang-ngulang jika belum mendapat jawaban iya. “iya sayang, insyaallah, abi segera ke sini lagi”. Dia menjawabnya, "awas loh ya kalo kelamaan gak kesini-kesini, nanti mbak Raisha susul ke Jogja looh". "Nanti Mabk Raisha nyetir mobil sendiri ke Jogja, khan udah besar" begitu celotehnya. Kagetnya aku, nih anak cerdas banget.
Belakangan perkembangan pendidikannya sudah mulai kelihatan. Pasca dibelikan white board, spidol dan penghapusnya. Ia senang sekali mencorat coret di papan itu, mulai berulang-ulang membuat gars tegak lurus, bundar, hingga belajar menulis huruf, “a, b, c”. serta angka "1,2,3". Dan alhamdulillah sekarang suda bisa menulis di kertas. Bahkan pengalaman menulis di white board ini, membuat Raisha selalu ingin tampil di kelas, ia senang sekali jika di suruh maju di depan kelas melakukan apa yang diperintahkan gurunya.
Walaupun masih banyak kesalahan, dan jawaban yang diberikan terkadang tidak jelas arahnya. Tetapi ia mulai aktif dan senang jika disuruh maju. Waah perkembangan yang baik, padahal sebelumnya ia gak pernah mau perhatikan apalagi kalau disuruh maju (biasanya cuek aja) asyik dengan makanan bekalnya.
 
Di sisi lain, ia juga mulai getol menghafal lagu dan surat-surat pendek yang ada dalam buku hafalan yang diberikan sekolah Al-Hasan. Setiap bagun pagi, jam 04.00, maka bibir mungilnya mulai bersenandung segala hal yang diajarkan gurunya di sekolah. Hingga waktu ke sekolah tiba. Begitu sepanjang hari, banyak digunakan untuk bernyanyi dan menghafal doa-doa dan ayat-ayat pendek.
Ketika mau tidur, ia slalu mendekap bukunya, entah buku gambar atau buku hafalannya, terus sekarang semangat banget ngerjain tugas atau PR yang diberukan gurunya, dia gak akan tidur sebelum tugasnya diselesaikan. “Miiik, aku mau garap tugasku dulu ya….” Begitu celotehnya. Padahal biasanya ia kecapek an sepulang sekolah. Biasanya minta mandi terus bobok, sampai subuh menjelang.
 
Hal yang mungkin patut jadi nilai plus adalah bahwa Raisha termasuk anak yang gak mau dinomorduakan, tidak suka disepelekan, dan tidak suka kalah. Makanya, kemauannya besar agar ia tidak kalah dengan yang lain. Hanya saja, hal ini takut jadi "boomerang", jika ternyata ia sudah berusaha keras ternyata masih kalah. Bisa berdampak kurang baik bagi dirinya. Harus diajarkan kesabaran dan proses, bukan instan. segala sesuatu hanya dapat diupayakan selebihnya ada faktor x yang tidak terelakkan. di samping kapasitas kita yang terbatas.

yang juga membanggakan adalah perkembangan calistungnya udah beranjak bagus, ia sudah bisa bisa menulis bentuk huruf “a, b, c” dan angka "1, 2, 3". padahal sebelumnya belajar membuat garis lurus atau garis tegak lurus susahnya minta ampun. segala sesuatu yang digambarnya pasti melengkung, melingkar atau bulatan. lurus dan persebi baru dua minggu belangkan ini di usianya 4,5 tahun. ketika disuruh menggambar binatang, benda atau apapun, pasti lingkaran-lingkaran yang sulit mendekati bentuk gambar yang diinginkan. naah belakangan ini mulai terbentuk dan dapat dikenali dengan jelas apa yang ditulisnya. sangat menggembirakan. bahkan belakangan sudah bisa menulis huruf hijaiyyah (waaaf sungguh menggembirakan)...senyatanya kemampuan itu berkorelasi dengan kebiasaan. tinggal dibiasakan secra tekun dan kontinyu, maka kita akan menguasainya.

Di sisi lain, ia sudah kita kenalkan pengurangan dan pembagian (karena ia udah hapal hitungan 1-10), dan sekarang sudah bisa memahami pengurangan (dua dikurangi satu masa dengan satu). yaah, bertahap dengan kesabaran dan sambil bermain menyenangkan, pasti cepat belajar banyak hal. Semoga perkembangannya akan semakin baik. Doaku untukmu selalu buah hatiku…

Read more ...

Sabtu, 01 Oktober 2016

Raisha Sekolah di Islam Nusantara Berkemajuan


22 Agustus 2016 lalu Raisha Raqilla Assaid, resmi sekolah di PAS Al-Hasan (Pondok Anak Sholeh semacam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Ponpes Al Hasan Ponorogo. Sebuah yayasan pendidikan pesantren yang berafiliasi dengan Ponpes Gontor. sebuah lembaga pendidkan yang cukup terkenal dengan program Tahvidz Al Quran mulai usia balita sampai dewasa. Sungguh sebuah lembaga yang sesuai dengan harapan. Di samping murah juga bermutu dan berkwalitas. Bayangkan aja uang masuknya aja hanya 700-an ribu. Dengan uang bulanan  (SPP) 125 ribu, dan uang buku pertahun 250 ribu. Dapat makan dua kali karena masuknya jam 07.00-13.00, dengan tenaga pengajar yang sabar dan perhatian. Muuuurah banget khan apalagi dibandingkan dengan sekolah-sekolah di jogja seperti sekolahnya dulu di Play Grup. Di Jogja gak mungkin bayar segitu dapat makan dua kali.
Bersyukur banget, bila Raisha bisa betah di Ponorogo dan senang sekolah di Al-Hasan. Bagi kami orangtuanya, seperi pulang kandang. Seperti judul tulisan ini. Karena sebelumnya ia sekolah di lembaga Muhammadiyah dan sekarang di lembaga Nahdatul Ulama. He..he.. sekolah yang penuh warna (colorful). Raisha masuk kelas di TK A 1 (istilah di Al-Hasan), setara dengan TK Nol Kecil. Badannya yang bongsor kelihatan banget paling besar di antara teman-temannya. Naluri pemimpinnya yang sudah muncul sedari kecil. Membuatnya selalu berbaris di depan walaupun di hari pertamanya ia tidak canggung sedikitpun. Malah antusias sekali dengan ekspresi yang berbinar-binar. Memang anak satu ini, punya catatan tersendiri dalam hal kemampuan sosialnya. Kosa katanya sangat kaya, dan beragam dengan penempatan makna dan pemakaian yang tepat. Dibanding seusianya, ia dari kecil sudah lancar huruf “R” dan “L”. Bahkan banyak sekali kosa kata yang menurut orang dewasa sulit dipahami penggunaannya. Tetapi ia mampu mengingat dan menerapkannya dalam bahasa kesehariannya. Kita sering kali dibuat geleng-geleng kepala jika muncul suatu kata baru yang menurut seusianya seharusnya belum dipahami.
Belum lagi masalah kemauan dan semangatnya. Dari kecil karakternya gak mau diajarin atau dibimbing. Malah dia sok berlagak bisa. Dengan didukung pernyataan yang menggelikan. “aku tuh biiiiisssaaa miiik, biiii, bisa sendiri gak usah diajarin”. Gitu bilangnya, walaupun kenyatannya sebaliknya. Di sekolahpun begitu, dari dulu awal sekolah di play group, ia jarang banget mau diajarin atau mengerjakan tugas yang diperintahkan gurunya, malah sibuk dengan dirinya sendiri, atau malah main sendiri, gak mau merhatiin gurunya. Tapi anehnya ketika di rumah, ia langsung mencoba apa yang dilakukan di sekolah, dan gigih banget belajar sendiri, diajarin gak mau, malah ngambek. Begitulah Raisha, gayanya sok pintar dan gengsinya itu looh.

Kalau sama temen-temennya inisiatifnya sangat tinggi, dia selalu punya ide untuk ngajak temannya bermain apapun yang terlintas di benaknya. Dan yang kadang menjadi bahan pertengkaran adalah kesukaannya mengatur teman-temannya agar mau mengikuti keinginannya. Kalau temannya gak mau, ia akan bersikeras memaksa. Makanya, ia sangat suka jika ada teman-temannya yang nurut apa yang diinginkannya. Pasti ia akan lama bermain dengannya. Berbeda jika, yang diajak main juga suka mengatur, maka yang terjadi adalah persaingan dan rebutan, ujungnya tidak begitu lama, temannya itu yang dibuat nangis, atau minimal pergi pulang. Lah wong kalau Raisha merasa tidak nyaman oleh temannya, ia akan protes dengan bilang “harusnya kamu itu minta maaaaf sama aku” gitu.
Belum lagi kalau temannya pegang mainan yang ia belum pernah liat. Maka ia dengan berkeras ingin memegang, menggunakan dan memainkan sampai puas. Kadang sampai dibawa pulang. Walaupun temannya nangis minta dikembalikan. Yaaah begitulah Raisha di mata kami. Kami sangat bersyukur dia bisa tumbh besar dan sehat. Walaupun membtuhkan tenaga ekstra untuk menemani dan mendampingi, karena perilakunya yang sangat aktif.
Kembali ke cerita semula, tentang sekolahnya Raisha. Sebelum berangkat ke Ponorogo, ia sudah tidak sabar sekali ingin segera masuk sekolah untuk mendapakan pengalaman baru. Siapapun yang ditemui, mulut mungilnya sudah nyerocos cerita, kalau dirinya akan ikut umiknya sekolah di ponorogo. Dan yang lebih lucu lagi. Buuuaaanyak sekali benda-benda yang disukai, entah itu berkas kerjaan abinya atau umiknya, buku, atau barang-barang utinya. Dimasukkan ke tas, katanya mau dibawa ke Ponorogo, mau dibawa ke sekolah, mau buat main dengan teman-teman barunya. Kondisi ini, dapat dimaklumi, jika dihitung sudah hampir sebulan lebih ia menahan diri belum masuk sekolah. Seharusnya pasca lulus dari Play Group di TK ABA Aisyah Jogja, ia harusnya langsung masuk TK Nol Kecil. Tetapi karena harus menunggu Utinya berankat ke Tanah Suci, jadi tertunda deh sekolahnya Raisha. Akibatnya menjadi kesedihan tersendiri bagi Abinya. Karena tidak bisa seperti ayah yang lain. Mengantar anaknya pertama kali memasuki gerbang sekolah di tahun ajaran baru.
Hari pertama sekolah, ia belum memakai seragam, karena seragam yang dipersiapkan sekolah Al Hasan tidak muat di badannya. Akhirnya di hari kedua, ia bisa memakai seragam, diambilkan dari jatah anak TK Nol Besar. Baru dicoba, ia sangat senang karena seragamnya muat. Dan dia langsung lari ke arah teman-temannya, tidak mau melepas baju seragamnya. Padahal niatnya hanya mencoba. Mungkin ia merasa gak enak dan kurang nyaman berada diantara teman-temannya yang berseragam. Makanya ia sangat senang banget ketika mendapat seragam yang muat di badannya.
Hari-harinya di sekolah dilalui Raisha dengan rang gembira. Walaupun sepulangnya dari sekolah ia kecapean berat, seringkali tepar di ranjangnya mulai jam 15 sampai shubuh menjelang keesokan harinya. Begitulah pola baru yang harus dijalani. Karena sesungguhnya Raisha sangat aktif anaknya. Kalau udah berada di antara sebayanya, ia akan lupa waktu, lupa makan dan minum, bahkan lupa untuk buang air. Saking asyiknya bermain.
Kondisi tersebut perlu penyesuaian kondisi badannya. Karena waktu yang dilaluinya di sekolah lumayan panjang. Dari jam 07 pagi sampai jam 13.00 atau 14.00 baru dijemput Uminya. Dalam kurun waktu enam sampai tujuh jam itu, bisa dipastikan ia selalu bergerak dan bernyanyi teriak-teriak. Kondisi in tentu menguras energi dan fisiknya. Makanya beratnya menyusut. Walaupun di sekolah mendapat jatah makan dua kali. Tetapi tanpa kontrol terhadap mimik air putih, akan sangat berpengaruh terhadap dirinya. Karena sedari kecil Raisha sangat susah mimik air putih. Jangankan air putih yang rasanya tawar. Wong susu aja yang manis susahnya minta ampun (udah gak kehitung jenis susu yang dicoba agar mau diminum). Kalau tidak diberi jus atau buah setiap harinya, ia akan dehidrasi kekurangan cairan.
Bahkan sudah dua kali Raisha ngompol di sekolah, gara-gara asyik main sehingga lupa buang air kecil. Akibatnya belum nyampai ke toilet ia udah gak bisa nahan pipis. Kondisi ini sungguh membuat kami kawatir, terkait pola minum, makan dan waktu bermain serta istirahat. Karena lamanya durasi waktu untuk seusianya. Walaupun di sekolah disediakan tempat istirahat untuk bobo siang. Tetapi yang namanya Raisha kalau udah berada di antara anak sebayanya, ia akan segar bugar bermain dan berlari ke sana- ke mari berebut mainan. Gak kebayang bagaimana ia setiap hari merebut mainan teman-temannya, karena emang dia anaknya susah sekali disuruh ngalah. Pasti membuat teman-temannya menangis kalau udah berbaur.
Sepuluh hari yang lalu, Raisha sempat mengalami panas tinggi, hingga mencapai 40’ derajat, sehingga pagi dan malam sering keluar darah dari hidungnya (mimisan). Kita bawa ke dokter, dan cek darah, alhamdulillah negatif DB, hal yang kita kawatirkan. Tetapi ada infeksi yang diduga berada di saluran air seni. Karena likositnya sangat tinggi. Hal ini mungkin akibat dari kebiasaannya menahan air kecil, sedang dirinya sedikit minumnya. Sehingga berdampak pada kondisinya. Setelah empat hari panas tinggi, akhirnya ia berangsur pulih. Dan dua hari berikutnya kembali ke sekolah.
Sekarang ia sedang melepas kangen dengan Utinya yang baru pulang dari Tanah Suci. Mau apapun manggil Utinya. Mau makan, mimik susu, bobo, jalan-jalan. Utiiii, Utiiii, dan Utiii. Sampai ia bilang gak mau balik lagi ke Ponorogo, lebih enak di sini di Jogja, ramai terus katanya. Heeemmm, ini tantangan baru lagi, agar bisa merayu Raisha untuk mau balik ke Ponorogo. Karena sesungguhnya lingkungan di sana lebih mendukung dibanding di Jogja. Biar belajar menjadi orang desa yang simpel, penuh tenggang rasa dan nilai-nilai budaya ketimuran yang kuat dalam kehidupan sosialnya.




Read more ...
Designed By